Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Puisi “Lebih keras dari batu”

Lebih keras dari batu Cipt : Brian Jevon Biar semua api padam selamanya Demi menjaga es tetap membeku bom waktu akan meledak pada waktunya Sekarang hanya tinggal menunggu waktu Kamu akan selalu menjadi kamu sesaat berubah tapi hanya sesaat Karakter adalah warisan mutlak sang pencipta hinggap menjadi kasih sayang Sayang hanya ketika satu Hilang ketika ada baru Batin hati batin segalanya Ketika hidup untuk mencinta Tubuh singgah sementara Hati pergi selamanya Januari, 2020.

Puisi “Pahit”

Pahit Cipt : Brian Jevon Awal yang buruk untuk memulai Bergilir  dan pertanyaannya Apa yang salah dari ini Mencoba berubah sudah Mencoba berganti sudah Apa ini sebuah hukum alam Karena sudah melupakannya Apa ini sebuah tebusan Karena sudah menyepelekannya Prinsip diri itu  Hanya melekat pada dinding terluar Tidak menjadi tihang Atas acuan yang menjadi kokoh Perlahan akan terkelupas Dan akan hanya terlepas terhempas terombang ambing Dan akhirnya sesal menyesal menyalahkan masa lalu Yang sudah berlalu Januari, 2020.

Puisi “Suara Logika”

Suara Logika Cipt : Brian Jevon Bagus kata mereka Seraya berbisik sedikit terdengar Hebat kamu mengelabuhi mereka Citra baik diterbarkan Kata manis dikumandangkan Hey bro apa selama ini yang kamu kejar Pembelajaran atau pujian Hayati sebuah pujian dengan pembelajaran Dengan demikian kamu adalah idaman Pedoman mu mulai hilang Jauh dari harapan Cuih air ludah ku pun tak sudi tumpah di jiwa mu Mau jadi apa sekali lagi dilontarkan Pertanyaan yang muncul saat sendirian Renungkan  Bangkit dan berjayalah Jangan hanya ucapan Pikirkan Berdiri dan berlarilah Meski sudah terlanjur nyaman berjalan Januari, 2020.

Puisi “Pamit Paling Akhir”

Pamit Paling Akhir Cipt : Brian Jevon Terimakasih pernah mau berjuang Hari ini adalah saksi Dimana cinta pergi bukan sementara Dan percaya sirna selamanya Mohon maaf telah berani berjanji Mohoh maaf telah berani mengingkari Ini adalah pamit yang paling akhir dari sebuah hubungan Menutup dengan sebuah doa Semoga kamu bahagia Kamu adalah pemenang Mencintai kamu adalah siklus yang berulang Mencintai untuk kehilangan Inilah hilangnya kasih sayang atas dasar takut kehilangan Selalu begini arus cinta Padam ketika tak bersama Malam ini ku kubur cinta ini Untuk selama-lamanya Januari, 2020.

Puisi “Gerimis di sore hari”

Gerimis di sore hari Cipt : Brian Jevon Terjepit pada suasana yang melankolis Aku kamu takut bersatu Terikat janji yang tak logis Menghabiskan sisa hati yang manis Jatuh hati untuk kesekian kalinya Hingga bosan dalam berpuisi Karna pada akhirnya akan mati lagi Tapi kali ini berbeda Tiga perempat kali tiga Segitiga bermuda Menghisap seluruh alam semesta Apa masa itu sudah pergi? Atau hanya tingal hari-hari sepi? Ah sudah! aku tidak peduli Hari ini aku cinta padanya Hatinya terbuat dari melati  Nan indah harum terpampang sinarnya Senyum itu memberi kebahagiaan sempurna Kali ini dia yang terbaik Terkadang masa lalu hanya menakutimu Membuat jalan menjadi pelan Dan seperti berlari dengan sebuah jari Ya kamu yang saat ini Tapi terkadang aku tidak percaya diri Apa aku hanya singgah Atau hanya sekedar pindah Aku yakin kita dipertemukan  Karena saling menemukan. Febuari, 2020.